Cara Tuhan Mematahkan dan Memulihkan Hati Umat-Nya Part 2
![]() |
| src pexels |
Hari terus berjalan, dan inilah penyesalan saya. Tanggal 25 November 2007. Saat itu saya melihatnya melalui pintu kamar. Saya hanya berdiri di samping pintu dan memperhatikannya. Saat itu wajahnya sangat bersih, terlihat bercahaya dan tenang. Dan saya mengatakan bahwa sebentar lagi saya akan berulang tahun dan menginginkan berjalan-jalan ke alun-alun kota sambil memakan es krim. Dia mengiyakan permintaan saya. Saya sangat senang, dia menyuruh saya untuk mendekatinya dan meminta untuk di peluk. Namun ternyata itu adalah detik terakhir saya melihatnya.
Iya, dia meninggal di hari itu. Setelah memeluknya, Saya pergi untuk mengaji namun firasat saya tidak enak. Tiba-tiba datanglah orang yang menghampiri guru ngaji saya.Setelah mereka berbincang, Kyai memutuskan untuk mengakhiri pengajian. Saya sama sekali tidak heran dengan pulang lebih cepat. Saya masih ingat, berlarian untuk cepat sampai ke rumah. Namun, di depan gang sudah banyak orang berkumpul, menata kursi, dan sibuk mondar- mandir.
Saya segera menuju ke rumah dan benar. Kakak saya telah meninggal. Saya melihat ibu yang menangis tidak karuan dan bapak hanya diam. Kakak saya yang lain juga menangis. Namun, ketika saya ingin masuk ke rumah tidak diperbolehkan karena takut akan terkena sawan. Saya digendong oleh tetangga dan disuruh untuk tidur di rumahnya. Semenjak kejadian itu berubahlah kehidupan saya. Ibu menjadi gila karena kepergian kakak saya. Sempat mogok makan dan mengalami drop. Setelah drop dan di periksa ke dokter ternyata dia di vonis mengidap Diabetes.
Kemudian datanglah berbagai penyakit lain seperti strok. Ibu mengalami strok separuh badan, dimana bagian kiri sudah lumpuh dan bagian kanan masih bisa berfungsi. Singkatnya. Ibu sakit selama lima tahun. Saya dan saudara lain yang merawat. Yang bisa saya lakukan adalah memandikannya dan menganti popoknya. Lantas apakah saya sabar dan telaten? Tidak, terkadang saya juga marah kepada Ibu saya. Ketahuilah seorang penderita diabet bisa berubah moodnya setiap saat tergantung kadar gula darahnya. Ibu bisa menjadi seorang yang pemarah saat gulanya naik dan menjadi anak kecil saat gulanya turun. Apalagi Ibu sering sekali diare dan terus menerus harus mengganti popoknya. Pernah sekali dia membanting piring makan karena tidak cocok lauknya. Disitulah mungkin Tuhan menguji kesabaran saya.
Saya sempat mempunyai pikiran untuk bunuh diri karena saya merasa sangat stres. Mempunyai Ibu yang hampir gila, permasalan lain terus berdatangan. Namun, rencana bunuh diri saya batalkan.Saya belajar dengan giat agar bisa masuk SMP favorit namun sekali lagi, Tuhan berkata lain. memang masuk ke SMP favorit namun Kakak perempuan saya tidak setuju karena biaya transportasi yang mahal dan akhirnya Dia (Kakak perempuan) menghubungi mantan kepala sekolahnya dulu. Dia menitipkan saya ke sekolah tersebut. Awalnya saya memberontak. Ingin rasanya mengumpulkan poin yang banyak agar saya dikeluarkan dari sekolah tersebut. Tapi, Tuhan tak mengijinkannya.
Beranjak kelas dua SMP. Ibu saya meninggal pada 10 April 2012. Antara sedih dan senang. Saya sedih karena harus kehilangan orang tua. Dan senang karena Tuhan mengabulkan doa saya. Iya, saya memang anak yang durhaka karena mendoakan Ibunya sendiri agar segera meninggal. Ketahuilah, saya tidak tega melihat Ibu yang seperti mayat hidup. Setiap hari mengoceh sendiri seakan-akan berbicara dengan kakak saya yang sudah meninggal. Di detik-detik Ibu meninggal, Ibu memuntahkan cairan berwarna hitam. Mohon maaf, cairan itu jika dilihat seperti kuah rawon dan itu menyebabkan saya trauma akan rawon dan tidak mau makan rawon karena teringat kejadian itu.
