Dia Cinta Pertamaku Part 1

src pixabay
Harusnya dari awal aku tidak perlu melakukan ini. Harusnya aku tidak perlu ikut terlibat dalam permainan mereka. Karena saat ujung botol itu tepat mengarah padaku, aku tahu masalah sedang menghampiri.


“Truth or dare?” tanya Saras antusias, seolah momen ini sudah dinantikannya. Dari ekspresinya yang tersenyum itu, aku tahu jika apa pun yang akan aku pilih, sudah disiasati olehnya. Saras pasti telah menyiapkan perangkap untuk menjebakku.

“Truth aja, Bun!” Fika yang juga berada di lingkaran ini mengompori. Dia baru saja menjadi korban permainan ini, dituntut menjawab jujur tentang siapa yang lebih disukai, pacarnya atau kapten basket sekolah. Dan jawaban yang diberikan cukup mengejutkan, dia memilih si kapten basket. Entah akan bagaimana nasibnya jika pacarnya tahu hal itu. Kenapa dia tidak memilih berbohong saja? Apa harus benar-benar jujur?

“Dare ajalah biar seru,” timpal Ana yang duduk di sebelah Fika.

Aku melirik Saras yang masih memamerkan senyum itu. Jika dare yang kupilih ... aku takut teman satu ini akan memberi tantangan yang aneh-aneh.

“Lama, deh,” ucap Saras yang mungkin sudah tidak sabar ingin segera melihatku sengsara.

Aku mencondongkan tubuh, mencengkeram pundak Saras yang duduk di depanku. “Awas aja lo kalau ngasih pertanyaan aneh-aneh,” bisikku.

Saras terkikik. “Tenang aja, Bun, masa lo gak caya ama temen sendiri.” Dia menaik-naikkan alis. “Udah buruan pilih apa?”

Aku berdecak, lantas setengah hati menjawab, “Dare.” Mengernyit, perasaan tak enak mulai menggelayuti hati. Aku hanya bisa berharap semoga tantangan Saras bukan seperti apa yang aku pikirkan.

“Dare-nya adalah ....” Saras menjeda kalimat, seperti sengaja mempermainkan emosiku. “Nyatain perasaan sama first love lo!”

“Asem!” umpatku. “Tantangan apaan itu? Ogah gue!” Aku melengos sembari melipat tangan di dada.

“Gak bisa dong, Bun,” ucap Fika. Disusul protes Ana yang bernada sama.

“Sportif dong!” timpal Saras.

Lagi aku berdecak, kali ini lebih keras. “Kalian pasti sekongkol, kan?” Telunjukku mengarah pada wajah-wajah itu. Tawa mereka pecah membuatku semakin yakin akan hal itu.

Lantas teringat kejadian kemarin, saat ketiga temanku itu tak sengaja menemukan origami bentuk hati dari dalam tasku. Origami yang berisi curhatan hati, tentang dia yang aku sukai.

“Ah, kalian gak asyik, ah!” Bibirku mengerucut sebal.

“Oke, kalau gitu cukup kasih tau kita siapa orangnya,” ujar Saras. Fika dan Ana mengangguk-angguk.

Netraku memicing, memandang curiga. “Kalau gue kasih tau, trus apa? Kalian pasti mau macem-macem lagi, kan?”

“Etdah, Embun su’udzon mulu.” Fika menepuk dahi.

“Tau nih, gak caya banget sama temen sendiri,” sambung Ana.

Aku menghela napas, bosan juga mendengar mereka yang terus mengungkit itu. “Fine,” ucapku akhirnya. “Gue kasih tau, tapi besok.”

Lantas aku berdiri, melangkah pergi. Mengabaikan panggilan dari ketiga temanku itu.