Dia Cinta Pertamaku Part 2
![]() |
| src pixabay |
Aku tidak tahu apa ini bisa disebut cinta pertama. Tapi kalau ditanya apakah dadaku berdebar saat melihatnya, jawabannya iya. Apakah tubuhku mendadak panas dingin saat berada dalam radius dekat dengannya, jawaban iya.
Aku tidak ingat sejak kapan perasaan itu tumbuh. Apakah saat pertama kali melihatnya di lapangan? Ataukah saat mendengarnya menyebut namaku meski sekadar mengabsen? Atau justru ketika melihatnya menolong siswa lain yang keberatan membawa buku?
Aku tidak tahu.
Yang jelas hingga saat ini, detak di dada akan berubah kecepatannya tiap ada dia. Yang jelas, aku selalu ingin tahu apa pun yang dilakukannya. Aku selalu mencari keberadaannya.
Lalu ... jika ada yang bertanya akankah aku mengatakan perasaanku?
Tidak. Aku tidak seberani itu. Aku akan lebih memilih memendamnya dalam hati. Menikmatinya sendiri.
Bagiku sekadar menjadi pengagumnya dari jauh sudah cukup. Tak apa menjadi pemuja dalam diam, asal tetap bisa melihat wajahnya. Tak apa dia tidak tahu, asal kami tak terpisah terlalu jauh.
Aku takut jika dia tahu perasaan ini, dia justru akan menjauh. Menjaga jarak, bahkan mungkin membenci. Dan aku tidak mau itu terjadi.
“Yang mana, Bun?” tanya Fika, terdengar tak sabar sekaligus antusias.
Kami tengah berada di pinggir lapangan, menonton pertandingan basket.
“Dhias?” tebak Ana menunjuk pemain bernomor punggung tiga.
Aku diam.
“Arjuna?” Fika menunjuk lelaki jangkung lain bernomor lima.
Aku masih diam.
Sementara Saras dari tadi awas memandangi para pemain itu, seperti tengah memindai satu per satu. “Jangan-jangan si ketua,” gumamnya.
Aku menggigit bibir bawah.
“Atau ...,” lanjut Saras, “Andy?” Dia menunjuk pemain lain lagi.
Aku terkekeh, membuat mereka semua menoleh. “Penasaran banget, ya? Sampe serius gitu?” ledekku.
“Ya udah sih, kasih tau!” jawab Saras. “Napa jadi kayak tebak-tebakkan gini, sih?”
“Baiklah ....”
Saat ini, para pemain tepat berkumpul di satu titik. Sepertinya tengah mendengar arahan. Lantas telunjuk mengarah ke sana, pemain bernomor punggung delapan. “Itu,” ujarku.
“Siapa?”
“Mana?”
Tentu saja tidak mudah menangkap siapa yang aku tunjuk, karena para pemain itu tengah bergerombol.
Aku mengedikkan bahu untuk pertanyaan mereka. “Serah kalian mau yang mana, yang penting gue udah kasih tau.” Aku menjulurkan lidah, lantas beranjak pergi.
Sudut-sudut bibirku tertarik membentuk lengkungan, saat mendengar mereka mengumpatiku berkali-kali.
